BENGKULU – Angka kemiskinan di Provinsi Bengkulu kembali mencatat tren penurunan. Berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), per Maret 2025, persentase penduduk miskin tercatat 12,08 persen, atau setara dengan 252,97 ribu orang. Jumlah ini berkurang 8,2 ribu orang dibandingkan September 2024 yang mencapai 261,15 ribu orang (12,52 persen).

Namun demikian, meski secara umum mengalami penurunan, angka kemiskinan di wilayah perkotaan justru mengalami peningkatan. Sementara angka kemiskinan di wilayah perdesaan turun cukup signifikan.

“Perkotaan mengalami kenaikan tipis, sementara perdesaan menunjukkan penurunan yang cukup tajam. Ini menunjukkan distribusi pemulihan ekonomi belum merata,” dilansir dari Rilis Badan Pusat Satistika, Senin (28/7/2025).

Perkotaan Naik, Perdesaan Turun

Berdasarkan wilayah:

  • Perkotaan: Kemiskinan naik dari 12,32 persen menjadi 12,34 persen. Jumlah penduduk miskin naik sebanyak 0,7 ribu orang (dari 86,71 ribu menjadi 87,39 ribu orang).
  • Perdesaan: Kemiskinan turun dari 12,63 persen menjadi 11,95 persen. Jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 8,9 ribu orang (dari 174,44 ribu menjadi 165,58 ribu orang).

Penurunan ini turut menunjukkan bahwa program pemulihan ekonomi di desa lebih efektif dalam menjangkau kelompok rentan, sementara masyarakat perkotaan mungkin masih terdampak keterbatasan lapangan kerja informal dan inflasi komoditas perkotaan.

Garis Kemiskinan Naik, Rata-rata Rumah Tangga Butuh Rp3,1 Juta/Bulan

BPS juga mencatat Garis Kemiskinan (GK) di Provinsi Bengkulu per Maret 2025 adalah sebesar Rp683.820/kapita/bulan, yang terdiri dari:

  • Garis Kemiskinan Makanan: Rp503.475 (73,63%)
  • Garis Kemiskinan Non-Makanan: Rp180.345 (26,37%)

Dengan rata-rata rumah tangga miskin memiliki 4,59 orang anggota, maka Garis Kemiskinan per rumah tangga mencapai Rp3.138.734/bulan.

Secara historis, dalam rentang Maret 2013 hingga Maret 2025, angka kemiskinan di Bengkulu secara umum menunjukkan tren penurunan. Meski sempat fluktuatif pada 2013–2019, dan kembali naik akibat pandemi Covid-19 pada 2020–2021, namun sejak September 2021 hingga Maret 2025, angka kemiskinan kembali membaik, kecuali di Maret 2022 yang sempat mengalami kenaikan kembali.

“Perbaikan ekonomi pasca pandemi, bantuan sosial, dan pemulihan UMKM jadi faktor utama menurunnya jumlah penduduk miskin di Bengkulu,” katanya.

Jika dibandingkan Maret 2024, penurunan jumlah penduduk miskin jauh lebih signifikan, yakni dari 281,36 ribu orang menjadi 252,97 ribu orang — turun 28,39 ribu orang. Secara persentase, terjadi penurunan 1,48 persen poin. (**)