BENGKULU – Meskipun Indonesia secara kalender telah memasuki musim kemarau sejak April 2025, namun kenyataannya hujan masih sering turun di berbagai wilayah. Fenomena ini belakangan dikenal dengan istilah kemarau basah, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa kondisi ini adalah anomali cuaca yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa kemarau basah merupakan kondisi tidak biasa di mana meskipun secara klimatologis sudah masuk musim kemarau, tetapi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih kerap terjadi.
“Kemarau basah adalah fenomena tidak biasa yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan iklim global dan pola cuaca yang tidak stabil,” ujarnya.
Penyebab Kemarau Basah
BMKG mengidentifikasi sejumlah dinamika atmosfer yang mendukung terbentuknya kemarau basah tahun ini, antara lain:
- Sirkulasi siklonik di wilayah Indonesia
- Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO)
- Aktivitas gelombang Kelvin, Rossby Ekuator, dan Low Frequency
- Suhu muka laut yang lebih hangat dari normal di sekitar Indonesia
Kombinasi dari dinamika atmosfer ini memicu pembentukan awan hujan meskipun Indonesia telah memasuki periode musim kering.
Wilayah Terdampak dan Perkiraan Durasi
Menurut BMKG, daerah dengan pola hujan monsunal seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara adalah yang paling terdampak. Biasanya, daerah dengan pola hujan monsunal memiliki dua musim yang sangat jelas—musim hujan dan musim kemarau—dengan satu puncak masing-masing (unimodal). Namun di 2025 ini, hujan tetap hadir di tengah musim kemarau.
BMKG memprediksi kemarau basah akan berlangsung hingga Agustus 2025, sebelum memasuki masa peralihan musim atau pancaroba pada September–November, dan musim hujan kembali datang pada Desember 2025 hingga Februari 2026.
Dampak di Berbagai Sektor
Kemarau basah tidak hanya berdampak pada perubahan cuaca, tetapi juga menimbulkan tantangan baru di berbagai sektor:
1. Pertanian
Para petani sangat bergantung pada pola musim yang stabil untuk menentukan jadwal tanam dan panen. Hujan yang tidak menentu berpotensi menyebabkan:
- Gagal tanam
- Peningkatan risiko hama
- Kesalahan dalam pola irigasi
BMKG menyarankan petani untuk menyesuaikan waktu tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi lembap.
2. Sumber Daya Air dan Energi
Kemarau basah menyulitkan manajemen air karena curah hujan tidak terserap maksimal atau turun dalam waktu singkat. Dampaknya bisa dirasakan dalam pengisian waduk dan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) serta sistem irigasi.
3. Lingkungan dan Kesehatan
-
Risiko banjir lokal dan genangan meningkat, terutama di wilayah dengan drainase buruk.
-
Kualitas udara di kota-kota besar berpotensi menurun karena suhu panas dan kelembapan tinggi.
-
Meningkatkan risiko penyakit cuaca panas, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
4. Kebakaran Hutan dan Lahan
Meskipun kemarau ini basah, BMKG tetap mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap ada karena curah hujan yang tidak merata.
Rekomendasi BMKG untuk Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem. Beberapa langkah preventif yang disarankan antara lain:
-
Gunakan pelindung diri saat beraktivitas di luar rumah (payung, topi, sunscreen).
-
Hindari berteduh di bawah pohon besar atau baliho saat hujan disertai angin/petir.
-
Pantau informasi cuaca secara rutin melalui situs resmi bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, atau akun resmi @infoBMKG.
-
Antisipasi banjir atau longsor di wilayah rawan.
BMKG juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, pelaku pertanian, energi, dan masyarakat umum untuk menyusun strategi mitigasi dan penyesuaian terhadap perubahan iklim dan pola cuaca yang makin tidak menentu. (**)









