BENGKULU – Pemerintah Kota Bengkulu menggagas ujian serentak bagi siswa SD dan SMP sebagai upaya menjawab kelesuan mutu pendidikan pasca dihapusnya Ujian Nasional (UN). Program ini menjadi inovasi lokal yang digagas langsung oleh Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi.

Sejak 2021, pemerintah pusat mengganti UN dengan Ujian Sekolah (US) yang sepenuhnya menjadi kewenangan sekolah. Dampaknya, standar kelulusan dinilai longgar dan siswa kehilangan motivasi belajar. “Kota Bengkulu ingin menjadi bandul inovasi pendidikan secara nasional. Ujian serentak ini bisa menjadi contoh dan pilot project bagi pusat untuk mendesain ulang standarisasi pendidikan,” ujar Dedy, Jumat (12/9/2025).

Ujian serentak tersebut akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada 15 September 2025 dengan melibatkan sekitar 500 siswa kelas VI SD dan kelas IX SMP se-Kota Bengkulu. Kemudian, tiga besar dari setiap sekolah akan kembali diuji pada 30 September 2025.

Sebagai bentuk apresiasi, wali kota menyiapkan hadiah berupa laptop bagi peraih nilai tertinggi. Namun, Dedy menegaskan inti dari kebijakan ini adalah membangkitkan semangat kompetisi. “Hadiah bukan yang utama, yang penting siswa kembali termotivasi, sekolah juga terpacu meningkatkan kualitas pengajaran,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa langkah ini relevan dengan hasil studi internasional PISA (Programme for International Student Assessment) yang menunjukkan capaian literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia masih rendah. Tanpa evaluasi yang terstruktur, kata Dedy, masa depan generasi muda dipertaruhkan.

“Inovasi ini sinyal bahwa daerah bisa ambil inisiatif, tidak sekadar menunggu regulasi pusat. Jika berhasil, Bengkulu akan tercatat sebagai daerah pertama yang berani menawarkan model alternatif evaluasi pasca-UN,” pungkasnya. (Red)