DLHK Provinsi Bengkulu Soroti Pengendalian Limbah COVID-19

Bengkulu – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu menyoroti proses pengendalian limbah yang bersumber dari pasien positif COVID-19 baik yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun yang melakukan isolasi mandiri di pusat karantina.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Pengendalian Pencemaran DLHK Provinsi Bengkulu Zainubi, di Bengkulu, Kamis menilai, pengendalian limbah tersebut harus mendapat perhatian khusus.

Sebab, kata dia, jika tidak ditangani secara serius limbah tersebut dikhawatirkan dapat menjadi sumber penularan virus corona jenis baru, khususnya bagi petugas kebersihan yang mengambil sampah tersebut.

“Sorotan kita khusus untuk limbah yang berasal dari pasien isolasi mandiri di kediamannya. Diharapkan ada koordinasi lintas sektoral, termasuk melibatkan pihak puskesmas agar dapat memberikan perlakuan khusus penanganan limbah tersebut,” kata Zainubi.

Ia mengatakan, limbah pasien COVID-19 baik yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun yang melakukan isolasi mandiri di pusat karantina selama tahun 2020 tercatat sebanyak 11 ton lebih.

Saat ini pihaknya sedang menghitung jumlah limbah dari pasien COVID-19 tahun 2021 karena masih banyak fasilitas kesehatan yang merawat pasien positif COVID-19 di Provinsi Bengkulu belum melaporkan data jumlah limbah melalui aplikasi yang telah disediakan secara daring.

“Limbah 11 ton itu data pada Maret hingga Desember 2020. Kalau sekarang diperkirakan jumlah limbahnya bertambah banyak lagi seiring meningkatnya jumlah pasien terkonfirmasi positif COVID-19,” kata Zainubi.

Menurutnya, selain masih ada faskes yang belum melaporkan data perkembangan jumlah limbah, proses pengendalian limbah pasien positif COVID-19 juga terkendala, mengingat limbah tersebut tidak boleh dibuang ke ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Limbah tersebut harus dimusnahkan dengan cara dibakar, namun saat ini alat incinerator untuk membakar limbah tersebut hanya tersedia satu unit yakni di RSUD M Yunus.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Akhmad Yuliansyah menyebutkan saat ini terjadi peningkatan jumlah limbah infeksius COVID-19 di angka 30 hingga 50 persen dari biasanya.

Menurutnya, limbah infeksius itu tidak hanya dari fasilitas kesehatan dan masyarakat yang melakukan isolasi mandiri saja, tetapi juga bersumber dari masyarakat umum, perkantoran dan pusat perekonomian, yang sifatnya pencegahan seperti masker.

“Intinya dalam penanganan limbah ini harus ada kolaborasi bersama berbagai pihak. Terkhusus masyarakat juga harus diberikan edukasi dalam penanganan limbah yang dihasilkan,” ucapnya.

Untuk itu khusus dalam pembuangan limbah, baik bekas pakai pasien terkonfirmasi maupun tidak, diharapkan, menyediakan tempat khusus, termasuk bagi masyarakat yang isoman, dengan memberikan kode khusus.

Ia meminta masyarakat memberikan tempat sampah khusus bagi warga yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah, sehingga sampah yang dihasilkan bisa terindentifikasi dan dapat mencegah penularan.

Selain itu, masyarakat juga diminta menyemprotkan cairan desinfektan dan merusak dengan cara menggunting limbah yang dihasilkan dari pasien COVID-19, hal itu untuk mencegah agar limbah itu tidak dimanfaatkan lagi oleh pihak lain. (Ant)