Energi Terbarukan di Bengkulu Yang Melimpah Belum Dimanfaatkan

Bengkulu – Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan atau energi bersih yang melimpah. Energi bersih atau disebut juga energi terbarukan maksudnya itu adalah energi yang tidak berdampak buruk pada lingkungan.

Akan tetapi saat ini dunia, termasuk Indonesia sedang mengalami krisis iklim. Perubahan iklim itu disebabkan adanya pembakaran fosil, salah satunya batu bara. Fakta yang terjadi sekarang seperti cuaca ekstrim, kemudian banjir, dan lainnya. Di sisi lain pembakaran batu bara atau pembakaran energi fosil sampai saat ini masih menjadi primadona di Indonesia.

Hal itu terungkap dalam seminar yang digelar Kanopi Hijau Indonesia bertema “Energi bersih sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan” yang digelar secara virtual pada Jumat, 17 September 2021 dan disiarkan secara langsung melalui akun Youtube Kanopi Hijau Indonesia.

Juru Kampanye Energi Kanopi Hijau Indonesia, Olan Sahayu yang memoderatori seminar mengatakan potensi energi terbarukan Bengkulu sangat besar namun sayangnya belum dimanfaatkan optimal.

Berdasarkan kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebutkan Provinsi Bengkulu memiliki 7.297 Megawatt (MW) potensi energi bersih dan baru dimanfaatkan 259 MW sedangkan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bengkulu tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED) menyebutkan potensi energi bersih dari tenaga matahari sebesar 3.475 MW, air sebesar 945 MW dan angin sebesar 1.513 MW.

Seminar menghadirkan pemateri antara lain Sisilia Nurmala Dewi dari 350.org, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu, Sutanpr, Novita Indri dari Climate Ranger Jakarta dan Siti Badriah PT Awina.

Sisilia memaparkan mengenai energi bersih untuk mengurangi krisis iklim. Ia mengatakan bahwa teknologi yang dipakai sehari-hari ini sudah menjadi bagian besar bagi kehidupan manusia, apalagi pada masa pandemi COVID-19, membuat pemakaian teknologi semakin tinggi dan kebutuhan terhadap energi juga semakin besar.

“Kalau dulu tidak boleh seorang murid membawa handphone ke sekolah sedangkan sekarang semua siswa belajar lewat handphone,” katanya.

Ia mengatakan untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut ada banyak sumber listrik yang lebih ramah lingkungan, seperti matahari, air, dan angin. Akan tetapi pembangkit listrik di Indonesia masih banyak memakai energi fosil atau batu bara.

“Contoh saat mengisi daya HP itu memakai batu bara yang sangat banyak. Kenapa demikian? Karena memang sumbangan energi fosil seluruh pembangkit di seluruh Indonesia itu mencapai 85 persen, jadi listrik yang menyala terus, handphone yang kita gunakan, dan Youtube yang berjalan itu ada batu bara yang sedang dibakar,” kata Sisilia.

“Apapun yang kita perjuangkan saat ini kalau lingkungan kita semakin lama, semakin rusak. Rasanya akan menutupi kebahagiaan dari apa yang kita perjuangkan,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa cara melawan krisis iklim atau memperlambat kenaikan suhu bumi adalah transisi energi. Jadi tidak masalah jika tetap menggunakan teknologi yang ada sekarang akan tetapi sumber energinya harus yang bersih.

“Energi dari batu bara ini punya sumbangsih dalam membangun peradapan kita sampai di titik ini tetapi dengan dampak-dampak yang dipelajari, betapa dampak itu sangat membahayakan kita dan generasi mendatang dan kita harus transisi atau menggantinya,” katanya lagi.

Kemudian hal yang patut diapresiasi adalah Sekolah SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu yang menjadi sekolah pertama di Bengkulu yang memakai energi bersih.

“Kami sudah membuktikan komitmen untuk meningkatkan penggunaan energi bersih. Solar PV yang terpasang di sekolah itu yang bersumber dari energi matahari mencaai 2,1 KWp dan baterai 4,8 KWh yang terpasang sejak 1 Oktober 2020,” kata Sutanpri.

Ia mengatakan, komitmen SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu dalam berkampanye penggunaan energi bersih diawali dengan proses pendidikan formalnya, seperti mengenalkan kepada siswa/i dan para alumni bahwa pentingnya penggunaan energi bersih.

“Kami memang tidak terjun langsung ke masyarakat seperti yang dilakukan Kanopi, tetapi mudah-mudahan bagian kecil ini setidaknya telah menyumbang, mendidik, dan menanamkan pemikiran sejak dini. Mungkin beberapa tahun ke depan baru akan terasa dampaknya dari upaya kami dalam berkomitmen penggunaan energi bersih,” katanya memaparkan.

Saat ini menurut Sutanpri, keberadaan energi surya di sekolahnya telah mampu menjadi sumber listrik untuk area laboratorium komputer, menghidupkan lebih 60 kamera CCVT dan menjadi andalan saat listrik padam saat ujian berlangsung.

Dalam perspektif anak muda, Novita berpendapat bahwa peran anak muda yang bisa dilakukan terkait perubahan iklim atau krisis iklim ini sangat berdampak karena populasi anak muda atau para usia produktif sangat tinggi.

“Tapi satu hal yang perlu diketahui bahwa masalah krisis iklim ini sudah terjadi dan untuk keluar dari krisis iklim ini sudah tidak memungkinkan lagi, tetapi kita bisa mencari cara untuk mengurangi dampak-dampak dari krisis iklim itu sendiri,” kata Novita.

Selanjutnya dari Siti Badriyah dari PT Awina, perusahaan pengembang energi terbarukan saat ini dalam kondisi darurat iklim sangat penting untuk mengembangkan penggunaan energi terbarukan dan meminimalisir kerusakan lingkungan.

“Tetapi karena dampak bahayanya itu tidak langsung didepan mata kita atau tidak terjadi setiap hari, padahal itu serangan tiba-tiba yang bisa terjadi kapan saja, mungkin kalau diperkotaan yang cukup ekstrim akhir-akhir ini atau tahun belakangan ini dampaknya adalah hujan ekstrim disertai banjir,” katanya.

Ia menambahkan jika di daerah yang masyarakat bermatapencaharian bergantung pada alam akan sangat terasa dampaknya, seperti para nelayan dan petani. (Ant)